Menagih Janji Infrastruktur Bondowoso di Tengah Kepuangan Bencana
Bondowoso selama ini dikenal sebagai daerah dengan lanskap pegunungan yang megah dan hamparan kebun kopi yang mendunia. Julukan “Surga Kopi” bukan sekadar slogan wisata, melainkan identitas yang dibanggakan warganya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebanggaan itu seperti tertutup mendung panjang. Setiap hujan turun, yang hadir bukan lagi rasa syukur, melainkan kecemasan.
Air yang seharusnya menghidupi sawah dan ladang justru
berubah menjadi ancaman: banjir, longsor, jalan terputus, dan jembatan ambruk.
Fenomena ini bukan kejadian sesaat. Ia berulang, membentuk pola yang tak bisa
lagi disebut sebagai kebetulan alam.
Menyalahkan curah hujan semata adalah cara paling mudah
untuk lari dari tanggung jawab. Bencana yang berulang justru menyingkap
persoalan yang lebih mendasar: lemahnya perencanaan dan pemeliharaan
infrastruktur.
Drainase Tersumbat, Kota Tersendat
Sistem drainase adalah “nadi” sebuah kota. Ketika ia
tersumbat, lumpuhlah aktivitas masyarakat. Di Bondowoso, hujan deras selama
kurang dari satu jam sudah cukup mengubah pusat ekonomi menjadi genangan air.
Persoalannya bukan hanya soal volume hujan, tetapi buruknya
tata kelola sampah, minimnya fasilitas pembuangan, serta kurangnya edukasi
publik yang konsisten. Saluran air tersumbat, sedimentasi sungai tak
tertangani, dan normalisasi drainase jarang dilakukan secara menyeluruh.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bondowoso menunjukkan
panjang jalan kabupaten mencapai 1.382,416 kilometer. Namun kondisinya
memprihatinkan: hanya 19,22 persen yang berkategori baik, sementara 34,12
persen masuk kategori rusak berat. Angka ini bukan sekadar statistik—ia adalah
alarm keras yang semestinya mengguncang kesadaran pengambil kebijakan.
Lebih jauh lagi, berdasarkan Laporan Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah (LPPD) 2025, sekitar 30,7 persen wilayah Bondowoso merupakan
dataran rendah. Artinya, pusat kota memang menjadi “penampung alami” aliran air
dari wilayah hulu. Tanpa sistem drainase yang memadai, kota ini akan selalu
menjadi korban pertama setiap musim hujan.
Ketika Jembatan Roboh, Harapan Ikut Runtuh
Topografi pegunungan Bondowoso menuntut infrastruktur yang
kuat dan adaptif. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan kerapuhan.
Ambrolnya jembatan penghubung Bondowoso–Jember bukan sekadar
persoalan teknis. Ia adalah simbol rapuhnya komitmen terhadap keselamatan dan
keberlanjutan pembangunan. Putusnya akses tersebut berdampak langsung pada
distribusi ekonomi, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan masyarakat.
LPPD 2025 mencatat ada sekitar 35 sungai yang mengaliri
wilayah ini, termasuk Sungai Deluang, Sampeyan Baru, Mrawan, Tlaga, dan
Wonoboyo. Fakta geografis ini seharusnya menjadi dasar perencanaan konstruksi
yang lebih kokoh dan tahan terhadap gerusan arus (scouring). Namun yang
terjadi, banyak infrastruktur tampak dibangun tanpa perhitungan jangka panjang.
Contohnya terlihat dari:
Lubang menganga di jalan protokol pusat kota.
Jembatan penghubung Desa Jumpong dan Tangsil yang tak
kunjung diperbaikMeluapnya Bendungan Sampeyan Baru yang merendam permukiman
warga.
Catatan Kelam Awal 2026
Data BPBD Bondowoso mencatat ratusan rumah terdampak bencana
pada awal 2026. Februari menjadi puncaknya.
Banjir merendam ratusan rumah di Kecamatan Cermee, khususnya
Desa Cermee, Solor (Sulin Kulon), Ramban Wetan, dan Grujugan. Sebelumnya, angin
kencang pada Desember 2025 merusak 82 rumah di Desa Poncogati dan sekitarnya.
Longsor juga menerjang wilayah Ijen, Tegalampel, dan Binakal, disertai
amblesnya Jembatan Nangkaan.
Rentetan peristiwa ini menunjukkan bahwa bencana di
Bondowoso bukan lagi insidental, melainkan sistemik.
Antara Misi dan Realita
Pemerintah daerah saat ini mengusung misi membangun tata
kelola pemerintahan yang cepat tanggap, efektif, dan efisien. Namun masyarakat
berhak bertanya: di mana letak ketanggapan itu ketika infrastruktur dibiarkan
retak sebelum akhirnya ambruk?
Masalahnya bukan semata kekurangan anggaran, melainkan
kualitas perencanaan dan standar pemeliharaan yang rendah. Jembatan yang
sebelumnya sudah retak dibiarkan hingga roboh. Jalan yang diperbaiki seadanya
kembali rusak saat diguyur hujan. Siklus ini terus berulang tanpa evaluasi
menyeluruh.
Program pembangunan jalan sepanjang 25 kilometer pada 2026
melalui skema “RANTAS” (Infrastruktur Jalan Tuntas) patut diapresiasi. Namun
komitmen harus dibuktikan melalui percepatan realisasi, transparansi anggaran,
dan pengawasan ketat.
Menagih Bukti, Bukan Janji
Masyarakat Bondowoso tidak membutuhkan narasi indah atau
kunjungan seremonial saat bencana terjadi. Yang dibutuhkan adalah langkah
konkret dan terukur:
1. Audit menyeluruh terhadap proyek infrastruktur yang cepat
rusak.
2. Normalisasi drainase dan sungai secara masif sebelum
musim hujan berikutnya.
3. Pembangunan jembatan dengan konstruksi beton pracetak
yang tahan terhadap gerusan air.
4. Sistem pemeliharaan rutin yang transparan dan berbasis
pengawasan publik.
Pemimpin sejati tidak hanya hadir saat kamera menyala. Ia
hadir ketika rakyatnya membutuhkan perlindungan.
Bondowoso adalah daerah dengan potensi besar—kopi unggulan,
panorama alam, dan masyarakat yang tangguh. Namun semua itu bisa runtuh jika
fondasi infrastrukturnya rapuh.
Kini saatnya janji tidak lagi ditunda. Infrastruktur bukan
proyek lima tahunan, melainkan fondasi masa depan. Jika pemerintah serius
membangun, maka keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar
angka dalam laporan.
Bondowoso menunggu bukti.
Oleh: Maimunah, Warga kecamatan Pujer,
Aktivis Pemerhati Kebijakan Publik dan Pengurus PMII Jawa
Timur
