Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BERDAYA DALAM BERKELANJUTAN WARGA PESISIR


Berbicara kontruksi sosial sudah marak terjadi di masyarakat dan menjadi perhatian khusus di kalangan kaum perempuan, hal ini dikarenakan setiap ketimpangan yang terjadi perempuan mendominasi status korban. Ikhwalnya ketimpangan bukan hanya dalam penempatan kursi kepemimpinan atau kancah publik seperti apa yang sering kita dengar belakangan ini, ketimpangan datang dengan berbagai motif persoalan yang juga berakar dari sistem tata kelola dan kebijakan rezim yang berkuasa. Nyatanya jatah perempuan dalam aspek kepemimpinan tidak cukup untuk menggelorakan semangat kesetaraan, fenomena ini bisa kita soroti dari tidak terpenuhinya jatah yang sudah disediakan bagi perempuan di panggung politik. Dalam banyak studi kasus ketimpangan sosial yang menerpa laki-laki dan perempuan, masyarakat belum bisa memilah akar persoalannya. 

Krisis lingkungan semakin kompleks ketika kepentingan penaklukan alam mengendarai proyek pembangunan, juga berakibat kan terhadap kehidupan kultural masyarakat. Terlebih, pelaksanaan pembangunan diaktualisasikan sebagai pencapaian kebutuhan kehidupan jangka panjang. Secara sudut pandang ekologi khususnya di daerah pesisir selatan terkandung kekayaan alam yang berpotensi menajdi kegiatan ekonomi kreatif dengan tata kelola masyarakat lokal berbasis pariwisata. Kekayaan alam di sektor kelautan menawarkan banyak gagasan yang mengintegrasikan sektor ekonomi kreatif tanpa merusak struktur ekologinya dengan pemanfaatan beberapa pariwisata yang ada seperti pantai Watu Ulo, Pancer, Payangan, Cemara dan Papuma. 

Belakangan ini diketahui terdapat  kegiatan industri modern yang mengancam ekosistem laut  akibat dampak dari kegiatan industri pertambangan. Kegiatan pertambangan bukan hanya mengancam ekosistem alam, tapi berpotensi merusak tatanan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang, hal ini dikarenakan minimnya kesadaran masyarakat terhadap potensi lingkungan yang bisa dilihat dari aktivitas perekonomiannya, pelaku ekonomi di daerah pesisir selatan didominasi oleh laki-laki yang statusnya sebagai  kepala keluarga. Sepanjang pesisir pantai terdapat banyak pelaku UMKM yang menawarkan wahana bermain dan kuliner lokal yang didominasi oleh ibu rumah tangga, berdasarkan observasi penulis kegiatan ekowisata hanya berjalan ala kadarnya karena masih banyak pelaku UMKM yang tidak bisa memanfaatkan AI yang bisa digunakan sebagai promotor pengenalan produk atau jasa dengan beragam fitur marketplace karena jenjang pendidikan pelaku UMKM yang sebagian besar berakhir di sekolah tingkat menengah, tidak hanya itu dalam pengembangan kegiatan ekowisata masyarakat juga dihadapkan tantangan seperti kerusakan lingkungan pesisir akibat overfishing, abrasi, aktivitas industri, kurangnya akses terhadap pendidikan, pelatihan, modal untuk mengembangkan usaha kreatif dan stigma gender yang membatasi partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya pesisir.

 • Penerapan eko feminisme dalam pemberdayaan ekonomi kreatif. 

1. Pelatihan dan Edukasi

Memberikan pelatihan kepada perempuan pesisir tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Mengajarkan keterampilan ekonomi kreatif, seperti desain produk, pemasaran digital, dan pengolahan hasil laut.

2. Kemitraan dan Akses Modal

Membangun kemitraan antara pemerintah, LSM, dan komunitas lokal untuk menyediakan modal usaha bagi perempuan pesisir.

3. Penguatan Peran Perempuan

Meningkatkan partisipasi perempuan dalam perencanaan dan pengelolaan program ekonomi pesisir.

Mendorong perempuan menjadi bagian pemangku kebijakan sebagai suport sistem keterwakilan suara perempuan. 

4.Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan

Menyediakan fasilitas pengolahan limbah untuk menjaga ekosistem pesisir.

Membuat pusat ekonomi kreatif di kawasan pesisir sebagai tempat pelatihan dan pemasaran produk. 


Dengan pendekatan ekofeminisme, perempuan di daerah pesisir Jember dapat diberdayakan sebagai pelaku utama dalam mengembangkan ekonomi kreatif, sekaligus dapat menjaga kelestarian lingkungan pesisir untuk generasi mendatang.


Penulis : Mutiara Anggraini