SEPATU DI UJUNG JALAN
Langit mendung menguasai pagi itu. Sinar matahari berusaha menerobos celah-celah awan, namun hanya mampu memberi kehangatan yang samar. Udara dingin justru menambah suasana muram di pagi yang hampir beranjak siang. Di kejauhan, tampak seorang gadis remaja yang sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Gadis itu bernama Ravela. Dengan mengenakan seragam putih-biru dan kerudung sederhana, ia bergegas meninggalkan rumah sambil menenteng tas lusuh. Sepatunya yang mulai rusak berbunyi di setiap langkah. Meski jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, ia tetap semangat berjalan kaki. Seperti namanya Ravela yang berarti berjuang meraih tujuan.
"Semoga hari ini lancar," bisiknya pada diri sendiri.
Di perjalanan, ia melewati kerumunan warga yang memandangnya dengan tatapan iba. Langkahnya lambat dan penuh perjuangan, seakan tenaga yang dimilikinya tak seberapa. Sampai di sekolah, seragam Ravela sudah basah oleh keringat dan wajahnya terlihat lelah.
Setelah sampai, Ravela segera menuju kantin untuk membeli minuman. Ia hanya memiliki uang dua ribu rupiah, sisa uang pemberian kakeknya kemarin. Saat ia menunggu di antrian, beberapa temannya lewat dan mulai mengejeknya.
"Heh, Ravela! Sepatu butut begitu kok dipakai terus? Dasar miskin!" seru salah satu teman sambil tertawa.
Teman lainnya menambahkan, "Iya, tasnya juga sudah buluk begitu. Kenapa nggak ganti aja, sih?"
Ravela hanya tersenyum kecil, menahan diri. "Aku ke sini bukan untuk cari musuh, tapi untuk belajar," gumamnya dalam hati, berusaha tidak terpengaruh oleh ejekan teman-temannya.
Siang itu, Ravela pulang ke rumah dengan wajah murung. Sesampainya di rumah, ia langsung merebahkan tubuh kurusnya di atas tikar plastik yang didapat dari lomba 17 Agustusan tahun lalu. Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pintu.
"Ibu, ya?" pikir Ravela sambil bangkit.
Benar saja, ibunya masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah, setelah seharian bekerja menjadi asisten rumah tangga. Tas ibunya langsung diletakkan di lantai, dan tanpa banyak bicara, ibunya mendekat sambil tersenyum kecil.
"Ibu punya sesuatu buat kamu, Ravela," ujar sang ibu, sambil merogoh sesuatu dari dalam tas.
Ravela langsung membayangkan sesuatu yang ia impikan selama ini—sepatu baru. Namun, alih-alih sepatu, ibunya mengeluarkan sandal terompah kayu. Ekspresi kecewa terlihat di wajah Ravela, namun ia berusaha tersenyum dan bersyukur.
"Terima kasih, Bu. Ravela tetap senang, kok," ucap Ravela lirih.
Ibu menatapnya penuh sayang. "Kita memang belum bisa beli sepatu baru, Nak. Tapi tetaplah bersyukur, ya?"
Ravela mengangguk. "Iya, Bu. Ravela paham."
"Maafkan Bapak, ya nak, belum bisa belikan kamu sepatu baru," ucap ayahnya yang baru datang dari berjualan es cincau, wajahnya terlihat lelah namun penuh kasih.
"Sepatu baru untuk apa, Pak? Pakai terompah juga sudah bagus, hehe..." ujar Ravela, berusaha bercanda agar ayahnya tidak merasa sedih.
Dengan senyuman lebar, ia berharap bisa meringankan beban pikiran ayahnya dan menunjukkan bahwa ia tidak terlalu memikirkan tentang sepatu baru.
Keesokan harinya, saat jam istirahat, Ravela dipanggil oleh wali kelasnya ke ruang guru. Dengan langkah takut-takut, ia berjalan ke sana, pikirannya segera berkecamuk, memikirkan berbagai kemungkinan yang membuatnya cemas.
Sesampainya di ruang guru, Ravela bertemu dengan Bu Nafisa dan Bu Mega, dua guru yang dikenal lembut dan penuh perhatian. Dengan hormat, Ravela menyapa mereka, meskipun masih bingung mengapa ia dipanggil ke sana.
"Ravela, jangan takut, ya. Kamu nggak bikin masalah, kok," kata Bu Mega sambil tersenyum.
"Ravela," ujar Bu Nafisa lembut sambil memegang bahunya dan menatap mata Ravela dengan penuh perhatian.
"Ibu sudah memperhatikanmu sejak kemarin, dan sepatumu terlihat rusak, kan? Ibu serta Bu Mega ingin membelikan sepatu baru untukmu, tetapi ada satu syarat."
Ravela memandang kedua gurunya dengan mata berbinar, namun segera ia menundukkan kepala, merasa tidak layak menerima bantuan itu. "Syarat apa, Bu?"
"Syaratnya adalah kamu harus tetap semangat belajar dan berjuang untuk meraih impianmu. Bisa?"
Ravela mengangguk penuh semangat, matanya berbinar. "Bisa, Bu! Ravela janji akan terus berjuang!"
Bu Nafisa dan Bu Mega tersenyum melihat Ravela yang tampak senang sekali. Mereka saling berpandang, seolah memberi isyarat untuk rencana selanjutnya.
"Ravela, ikut kami sebentar, ya?" kata Bu Mega sambil mengisyaratkan agar Ravela ikut berjalan bersama mereka.
Ravela memandang mereka berdua dengan penasaran. "Kita mau ke mana, Bu?" tanyanya, mengikuti langkah kedua gurunya dengan langkah cepat.
"Ke suatu tempat yang spesial," jawab Bu Nafisa penuh rahasia, akhirnya Ravela berboncengan bertiga.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah toko sepatu di dekat sekolah. Ravela berhenti sejenak, memandang papan nama toko itu dengan bingung, kemudian menatap kedua gurunya.
"Bu, kita... di sini mau beli sepatu?" tanyanya dengan suara ragu.
Bu Mega tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ravela. Kami ingin kamu punya sepatu baru yang nyaman. Pilihlah yang kamu suka."
Bu Nafisa menepuk bahunya lembut. "Ravela, ini bukan merepotkan. Ini hadiah dari kami, karena kami bangga sama semangatmu. Pilihlah yang membuatmu nyaman, ya?"
Ravela mengangguk pelan, lalu dengan hati-hati mulai mencoba beberapa pasang sepatu. Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan sepatu yang pas dan nyaman di kakinya. Dengan penuh rasa syukur, ia menatap kedua gurunya.
"Terima kasih banyak, Bu. Sepatu ini... sangat berarti buat Ravela. Ravela janji akan terus berusaha dan belajar dengan baik."
Mata Ravela berkaca-kaca karena terharu. Lalu, Bu Nafisa dan Bu Mega ikut merasakan haru dan memeluknya erat.
"Kami percaya padamu, Ravela," kata Bu Nafisa lembut. "Ingat, setiap usaha pasti ada hasilnya."
"Iya, Bu. Ravela akan berusaha sekuat tenaga!" jawab Ravela dengan semangat, wajahnya bersinar penuh harapan.
"Jangan ragu untuk bertanya jika ada yang sulit, ya?" tambah Bu Mega, sambil mengelus punggung Ravela. "Kami di sini untuk mendukungmu."
Sejak saat itu, Ravela yang hampir putus asa kembali menemukan semangat untuk belajar demi masuk ke SMA negeri favoritnya. Usaha dan ketekunannya yang tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil; prestasinya yang gemilang kini dicantumkan dengan bangga di sekolah sebagai siswa unggul dan berprestasi.
Kini, ia juga menjadi anggota OSIS dan aktif dalam beberapa kegiatan sekolah. Lebih dari itu, ia sudah jarang dihina oleh teman-teman barunya. Ravela, yang dulunya tidak memiliki sahabat, kini dikelilingi oleh banyak teman yang mendukungnya.
Semua pencapaian ini mungkin tak lepas dari bantuan Allah dan orang-orang yang paling berjasa dalam perjalanannya. Siapa lagi kalau bukan guru-gurunya yang mengajarkan ilmu pengetahuan, serta orang tuanya yang tak pernah lelah mendoakannya dalam meraih cita-citanya.
"Mungkin bagi sebagian orang, sepatu tidaklah dianggap penting. Namun, bagi mereka yang berjuang, sepatu bisa menjadi simbol harapan dan semangat untuk terus melangkah."
Penulis : Qurrotul Aini