Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Romansa Kampus: membunuh Nalar Kritis!

Kampus, dalam idealisme yang dulu diagungkan, adalah rahim bagi lahirnya pemikiran bebas, tempat subur tumbuhnya nalar kritis, dan arena dialektika tanpa batas. Namun, di kampus saya (sebut saja kampus atabranta) , idealisme itu kian hari kian menjadi mitos. Yang terjadi justru kemesraan antara kampus dan mahasiswa yang bertransformasi menjadi hubungan simbiosis semu, bukan saling memperkuat daya kritis, tapi saling meninabobokan dalam kenyamanan yang membunuh daya pikir.

Mahasiswa yang seharusnya menjadi garda terdpan dalam mengawal kebijakan kampus kini lebih mirip mitra kerja yang enggan bersuara lantang. Apresiasi memang penting, tapi ketika apresiasi berubah menjadi kooptasi, kita patut waspada. Di sinilah ironi itu hadir, kampus menjadikan mahasiswa sebagai 'partner', namun dalam tafsir yang mengebiri kritik, memupus oposisi, dan membentuk homogenitas berpikir yang steril dari perlawanan intelektual.

Budaya kritis yang tergerus tidak sulit menemukan gejalanya. Lihat bagaimana forum-forum diskusi kian langka, bagaimana kegiatan mahasiswa lebih banyak diarahkan pada kegiatan seremonial dan proyek-proyek pragmatis yang menguntungkan citra institusi. Mahasiswa sibuk dengan proposal sponsorship, kampus sibuk menyiapkan dandanan mahasiswa untuk menjadi duta, bukan lagi manifesto pemikiran. Kritik mulai dianggap sebagai ancaman, bukan masukan. Mahasiswa yang kritis dicap "oposan", "tidak tahu terima kasih", bahkan "tidak mendukung kemajuan kampus".

Lalu di mana tempat bagi nalar kritis? Di mana ruang bagi mereka yang ingin bersuara tanpa harus dibungkam oleh narasi kolaborasi yang menyesatkan?

tulisan ini tidak terlepas dari pengalaman penulis pribadi, Masih saya (penulis) ingat, ketika organisasi yang pernah penulis geluti, organisasi yang biasanya menjadi ruang advokasi kebijakan di cap sebagai pembangkang, mahasiswa didalamnya dibunuh karakternya dngan bahasa dosen yang dikemas amat baik "kita di sini orang tua kalian", lalu orang tua mana yang tega menilap ruang tumbuh kembang anaknya!. Seiring berjalannya waktu organisasi pembangkang (sebut mereka) sampai masanya melakukan reformasi (kongres) untuk melanjutkan estafet kepemimpinan sebagaimana mestinya, pada gilirannya forum kongres berlangsung ricuh dengan kronologi LPJ yang tidak diselesai, satu persatu mahasiswa yang menjadi delegasi organisasi masing-masing  keluar meninggalkan forum. Jika ditelaah secara akal, tidak rasional kiranya delegasi ormawa yang hadir keluar meninggalkan forum dengan kronologi diatas, dalam hal ini penulis tidak menyalahkan siapapun!. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, ini mungkin pepatah yang sering kita dengar dan sulit untuk di praktekkan. penulis mengamini bahwa kampus yang menjadi tempat menimba ilmu tidak buta dengan sistem Trias politika NKRI, yang kemudian diinternalkan dalam lingkungan kampus (miniatur negara), maka saya tarik fenomena diatas, BEM merupakan lembaga yang menjadi bagian dari Trias politika (miniatur negara) keberlangsungan atau segala bentuk sengketa didalamnya penyelesaiannya harus sesuai dengan garis struktural (legislatif, eksekutif dan yudikatif) . Kita tahu bahwa kampus adalah benih subur untuk melahirkan generasi pemimpin bangsa, yang kesehariannya menjadi pusat perang pemikiran satu dengan pemikiran lain, tempat dimana ruang beradu argumen, tempat dimana perbedaan pemikiran di pertaruhkan untuk melahirkan ide baru yang lebih kolektif, sudah seharusnya kampus menjadi ruang berbeda untuk saling bergemuruh menyalurkan pendapatnya, seperti halnya Kongres BEM yang lalu. 

Sayangnya, fenomena itu kemudian berakhir pada kasih sayang ibunda (tafsirkan sendiri), Ya! ibunda lebih memilih anak-anaknya untuk tumbuh    diam seribu bahasa!, dan rumah yang dulu ramai dengan gelak-tawa hingga sedih-riang gembira kini sunyi dicabut pilar penyangganya , lalu bunda serta kepala keluarga asyik sendiri membuat aturan tanpa protes dari anak-anaknya, ini bukan tanpa alasan, tapi anaknya sudah biasa di didik untuk diam. (Sampai disini dulu. Goodbye). 

Ironi semakin lengkap ketika kita melihat bagaimana kampus menyambut kritik. Bukan dengan membuka ruang diskusi, tapi dengan membangun narasi tunggal, bahwa semua sudah baik-baik saja, bahwa mahasiswa seharusnya bersyukur, bukan bertanya. Kritik dianggap tidak loyal, bukan cermin dari cinta. Padahal, loyalitas sejati justru lahir dari keberanian menegur, dari keberpihakan terhadap nilai. 

Kampus yang membunuh daya kritis mahasiswa sama halnya dengan institusi yang kehilangan jiwanya. Ia menjelma menjadi bangunan kosong, tanpa denyut intelektual, tanpa gejolak dialektika. Dan sayangnya, ini bukan hanya kesalahan institusi. Mahasiswa pun andil ketika memilih diam, ketika lebih nyaman menjadi bagian dari sistem daripada menjadi pengganggu status quo.

Semestinya kampus antabrabta memiliki potensi besar. Tapi potensi itu tak akan pernah jadi kenyataan bila kampus terus memelihara kenyamanan palsu, dan mahasiswa terus menyandera idealismenya sendiri demi relasi yang aman-aman saja. Kampus atabranta tidak kekurangan orang pintar, tapi kurang akan orang-orang sadar! 

Saya tahu kalian sadar, tapi memang lebih enak malanjutkan tidur panjang. Mahasiswa harus kembali ke akar perjuangannya, sebagai agen perubahan, bukan pelengkap program kampus. Dan kampus, bila benar mencintai mahasiswa, harus belajar menerima kritik sebagai vitamin, bukan racun.

kampus tanpa nalar kritis bukanlah tempat tumbuhnya ilmu. Ia hanyalah ruang kosong, penuh basa-basi, dan sunyi dari suara nurani!. 

Sekian terimakasih. 

Selamat membaca semoga tulisan ini menjadi pengantar tidur yang hangat! 

Jika tidurmu tak nyenyak, seduh kopi dan berdiskusi sampai pagi kembali menjemput mimpi.

Penulis: Farizal Arbani