Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyikapi kegagalan sebagai refleksi diri demi kehidupan yang lebih baik

Sebagai manusia yang dianugerahi akal dan nafsu, mempunyai ego dan keingingan sudah menjadi hal yang wajar. Bahkan menjadi masalah jika sama sekali tidak memiliki keinginan atau cita-cita. 

Setiap dari kita pasti mempunyai cita-cita, bahkan dari kecil cita-cita tersebut sudah tertanam. Kalau kita flashback ke masa lalu saat masih kanak-kanak, tak jarang guru-guru atau orang tua kita menanyakan apa cita-cita kita, ada yang menjawab ingin menjadi dokter, guru, polisi, tentara dsb. Itu wajar dan normal bahkan harus, karena dari keinginan dan cita-cita, semangat juang tercipta. 

Namun saat menginjak usia remaja cita-cita perlahan melebur dan bahkan berubah, dari yang semula ingin menjadi polisi berubah ingin menjadi dokter dan seterusnya. Hal tersebut tak lain dipengaruhi oleh lingkungan sosial, sekolah tempat belajar, orang sekitar dan pengalaman yang dilaluinya. 

Di masa remaja, banyak hal yang ingin dicapai, namun tak jarang dipertengahan kita dipertemukan dengan kegagalan, jatuh, kemudian terpuruk atau bahkan putus asa. Sudah menjadi hal lumrah, dan hampir semua orang mengalaminya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa harus mengalami hal demikian? Bukankah dalam hidup kita mencari kenyamanan dan keberhasilan? 

Manusia dicipta tidak hanya agar hidup dan berjalan dimuka bumi saja, tanpa di uji dan tanpa tujuan yang jelas. Sakit, gagal, putus asa dsb. kita alami tak lain adalah bagian dari sendi kehidupan, kita diuji dengan kegagalan agar kita belajar bahwa hidup tak selamanya tentang berhasil atau menang. Pun jatuh, terpuruk hingga putus asa mengajarkan kita bahwa sesulit dan sepahit apapun proses yang kita alami pasti ada solusi dan jalan keluarnya sendiri. Dari hal tersebut mungkin bisa menjawab dari pertanyaan di atas bahwa mengapa kita mengalami kesusahan dalam hidup, tak lain adalah agar kita belajar dan semakin tangguh dalam menjalani kehidupan itu sendiri. 

Bahkan Allah dalam firmannya menyebutkan sampai dua kali dalam QS. Al-Insyirah: 5-6, bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka teruslah melangkah karena kegagalan tak selamanya buruk, dan tak perlu meratapi kemudian terpuruk. Namun fokuslah pada solusi karena meratapi nasib tidak akan memperbaiki keadaan. 

Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana pola pikir kita dan bagaimana kita dalam memandang suatu kesusahan, kegagalan maupun musibah. Menganggap suatu kegagalan sebagai pelajaran atau malah menyudutkan diri dan menyalahkan keadaan karena merasa gagal. Sejatinya hal tersebut tergantung bagaimana interpretasi dan anggapan kita terhadap suatu permasalahan yang kita hadapi. 

Terlepas apapun yang kita alami baik kegagalan ataupun musibah sebenarnya punya makna tersendiri tergantung bagaiman kita menyikapi, seperti yang disampaikan oleh seorang pujangga Inggris, yakni William Shakespeare "Tidak ada hal yang baik, atau buruk. Pikiran kitalah yang menjadikannya baik atau buruk". Dari sini kita belajar bahwa setiap keadaan bisa menjadi "baik" atau "buruk" tergantung bagaimana pikiran kita menanggapinya.

Seneca juga menyampaikan bahwa "Kesusahan yang datang terus-menerus membawa suatu berkah: mereka yang selalu ditimpanya, pada akhirnya akan diperkuat olehnya". Maka dari itu Semakin sering kita tertimpa musibah, semakin sering kita menemui kegagalan maka semakin tangguh pula diri kita dan semakin bijak dalam menjalani kehidupan selanjutnya. 

Maka dari itu pesan yang ingin saya sampaikan adalah teruslah berjalan, teruslah melangkah tak mengapa gagal, tak mengapa jatuh namun tetaplah rasional jaga agar pikiran tetap positif dan dalam suatu kegagalan jangan hanya melihat dalam satu sudut pandang saja. Selalu pikirkan hal positif apa yang dapat diambil dari kegagalan yang kita alami dan jadikan kegagalan sebagai pecutan untuk kembali berlari mengejar mimpi.


Penulis: Rosy